Menurut saya ada beberapa pelanggaran yang di lakukan oleh sebagian wartawan yang sering mengekspose setiap kejadian. sehingga wartawan terus-menerus menyajikan berbagai peristiwa mulai dari infotainment, politik, news maupun kejadian-kejadian yang tidak tersadari. kita mulai merasa bertambah wawasan setelah melihat berita yang ada pada media elektronik ataupun media masa. meskipun kita tidak merasakan langsung setiap peristiwa yang terjadi. namun dari pada itu saya merasakan ada segelintir pelanggaran yang di lakukan oleh para jurnalis menyangkut kode etik dan undang-undang pers. seperti pada peristiwa pemboman yang terjadi di indonesia yang di lakukan oleh teroris. wartawan sering kali menampilkan gambar yang kurang wajar dan sangat menakutkan. misalnya korban yang terkena bom dan mengalami luka yang sangat parah. seharusnya wartawan dapat memanipulasi gambar itu sehingga tidak terlalu menakutkan di pandang. hal ini termuat dalam kode etik pers menyangkut tata cara wartawan menyiarkan berita yang layak di pertontonkan. sehingga saya melihat hal ini adalah pelanggaran kode etik yang di lakukan oleh para jurnalis dan wartawan.
Latest Entries »
Dewasa ini banyak sekali kasus yang sering di sajikan oleh stasiun TV terkait berita infotainmen yang semakin hari semakin hangat saja. Berbagai kejadian sering terjadi akibat ulah para publik figure yang sering mencari perhatian, atau hanya mencari sensasi. tak ubahnya para pejabat negara atau perang politik pun selalu menghiasi berbagai peristiwa di negeri ini. Tak hentinya kasus demi kasus sering terexpose di infotainment dengan menyajikan berita terbaru dan ter-update sehingga menjadi berita yang menggegerkan, menyedihkan bahkan memuakkan. Peristiwa ini tidak terlewati oleh peran besar para pemburu berita atau yang sering di sebut wartawan. Betapa berartinya berita para artis oleh para jurnalis ini, guna mengangkat suatu tema berita untuk di perbicarakan. Siapa lagi kalau bukan wartawan sang pengexpose yang selalu berjuang mendapatkan berita-berita hangat.
Namun bukan pers bila tak kenal lelah, mereka melakukan semua itu berdasarkan aturan dan etika-etika yang berlaku. Bukan hanya undang-undang 45 saja yang mengatur tentang hukum-hukum di indonesia saja. Para jurnalis pun merasakan undang-undang itu yang mengatur segala perkara dan peraturan para jurnalis dengan kode etik tertentu. Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik: Demikian ini kode etik pers serta jurnalistik: 
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.
Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
Penafsiran
Cara-cara yang profesional adalah:
a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber;
b. menghormati hak privasi;
c. tidak menyuap;
d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;
e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;
f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;
g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;
Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
h prinsip tidak menghakimi seseorang.
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
gra
Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.
Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.
Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum. 
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.
Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.
Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.
Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.
Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers.
Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh
organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.
artikel ini sudah termuat di WARTA WARGA UNIVERSITAS GUNADARMA
Seni pada
mulanya dapat di artikan proses dari manusia memilih dan mengembangkan segala ide yang tertuang begitu saja melalu ide dan pikiran yang mewakilkan segala emosi dan ekspresi, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni dapat dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni itu terlalu abstrak sehingga sulit di jelaskan oleh manusia, bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta). Saat ini seni dapat menjadi pedoman sendiri bagi bangsa indonesia, yaitu seni berbatik. Dengan menumpahkan segala kemampuan dan keahlian ke dalam bidang kanvas atau bidang lainya, batik dapat melambangkan suatu kesenian tersendiri.
Batik merupakan salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Batik dapat juga mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Sedangkan Pengertian yang kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.
Budaya batik
Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik. Batik motif parang yang dipakai Kartini adalah pola untuk para bangsawan
View Full Article »





