Lagi, lagi dan lagi suara itu di perdebatkan, selalu, selalu dan selalu ocehan itu di di perbincangkan. Tentang dia yang haus akan budaya di negeri ini. Tentang dia yang rakus akan keutuhan wilayah di negeri ini. Padahal dahulu ada yang merengek untuk menegakkan kekokohan negeri ini, padahal dahulu ada yang rela busungkan dada tuk kejayaan bangsa ini. Menjadi suatu bangsa yang tak tarkalahkan oleh siapapun. memang pernah ada keringat yang terperas dahulu disaat kaki tak sanggup lagi menopang. memang Sempat ada Segala bentuk cacian dan siksaan yang hinggap di saat harga diri tak bisa lagi terpampang. Demi pertahankan satu keutuhan bumi pertiwi. Mereka bangga dengan tetes darah yang tumpah guna membela dengan segenap hati.
Bangsa ini bangsa Indonesia, Bangsa yang kaya akan apapun, bangsa yang dapat berikan segala harapan bagi setiap penduduknya. bangsa yang sangat patut untuk selalu menjadi bangsa yang di banggakan & di andalkan. Tempat dimana kakek nenek berpijak menanam benih kehidupan indah untuk masa depan. Cinta dan kasih sayang selalu mereka panjatkan untuk tidak menyerah sampai disini, Untuk tidak berhenti sampai disini. guna menjadikan bangsa ini bangsa yang bermartabat.
Tapi Kini akhirnya semua di makan massa, sedikit demi sedikit persatuan yang dulu pernah ada beranjak sirna, jengkal demi jengkal tanah yang dulu kami injak perlahan hilang, tetes demi tetes air yang dulu kami minum pelan-pelan terkuras habis. Tak dapat lagi kami pertahankan keabadian negeri ini, kami kalah dengan dia, kami takhluk dengan dia, dia yang biasa ber perilaku biadab dan sama sekali tidak beradab, selalu seenaknya meludahi dan mencaci kehormatan bangsa ini. merenggut segala bentuk perjuangan maupun gapai prestasi yang pernah terkenang oleh para pahlawan. Betapa ironisnya bangsa ini, bangsa yang kaya akan kebudayaan & kelestarian sekarang jadi mainan yang di perjual belikan, apa salah mereka! Apa salah para pejuang yang telah berjasa mendaulatkan kemerdekaan ini! Sehingga keruntuhan NKRI menjadi topik hangat setiap waktu. Dapatkah aku, kamu, kami dan kita rasakan betapa sangat mirisnya mereka apabila mendengar semua kebodohan dan keterpurukan ini. Pangkat yang terpajang di lengan sebelah kiri, yang dengan susah payah mereka raih sekarang mereka pasti malu untuk memakainya lagi. sia-sia nama gagah mereka yang terpajang di sudut jalan, usang sudah safari mereka yang tersimpan dalam lemari bersama debu.

Entah kami merasa terhipnotis atau terampas, dia dengan mudahnya merenggut sedikit demi sedikit bumi pertiwi. apakah kami yang terlalu bodoh untuk di bohongi? ataukah kami yang terlalu pintar untuk membohongi? Sehingga kami takut dan kami tidak bernyali menghadapi semua keterpurukan ini. Kami biarkan NKRI menjadi boneka mainan oleh dia, dia yang selalu berperilaku biadab dan sama sekali tidak beradab. Tuhan apa dosa kami.. tolonglah kami.. berikanlah kekuatan bagi kami untuk selalu berani berada di baris depan untuk selalu menyongsongkan segenap jiwa & raga mempertahankan satu kesatuan dan keutuhan bangsa ini. Untuk kami banggakan menjadi Merah putih yang kokoh. Dan menjadi pengabdi yang selalu memperjuangkan kemerdekaan untuk bangsa kami .. bangsa INDONESIA.











